Minggu, 03 Januari 2010

Pengumuman

Sehubungan dengan banyaknya calon investor yang berminat menanamkan investasi dalam usaha bagi hasil peternakan kambing skala rumah tangga ini, untuk sementara waktu kami tidak menerima investor atau pun investasi baru.
Saat ini kami sedang memusatkan perhatian pada penambahan kapasitas kandang agar dapat menampung lebih banyak kambing.
Kalau keadaan sudah memungkinkan, kami akan membuka kembali kesempatan investasi ini.

Salam Peternak

Hipyan

Rabu, 23 Desember 2009

Pengumuman mengenai Pengadaan Kambing

Kepada para investor kami beritahukan bahwa induk kambing betina belum bisa diambil dari peternak yang telah kami hubungi karena saya masih berada di Bukittinggi menjadi interpreter tim JICA dari Jepang.
Setelah habis bulan Desember ini saya akan kembali ke Padang dan segera mengambil kambing yang telah kami pesan.
Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

Salam Peternak

Hipyan

Rabu, 25 November 2009

Sistem Bagi Hasil Peternakan Kambing Kami

Pada dasarnya, sistem pembagian hasil yang akan diterapkan dalam suatu usaha bagi hasil peternakan tergantung pada beban yang harus ditanggung para mitra dan kesepakatan di antara mereka. Sistem bagi hasil yang umum diterapkan selama ini adalah 50% untuk penyedia bibit ternak kambing dan 50% untuk pemelihara. Karena itu, di kalangan masyarakat pedesaan dikenal istilah paroan, yaitu penyedia bibit kambing dan pemelihara kambing masing-masing mendapatkan bagian separuh dari anak yang nanti dihasilkan induk jantan dan betina.

Karena sistem bagi hasil ini sudah sangat umum berlaku dan sudah sejak lama diterapkan dalam setiap usaha bagi hasil peternakan kambing, masyarakat beranggapan bahwa setiap usaha bagi hasil peternakan kambing harus menggunakan pola 50%-50%. Mereka tidak menyadari bahwa seharusnya pola bagi hasil tersebut didasarkan pada beban yang harus ditanggung masing-masing mitra. Mereka juga tidak menyadari bahwa dalam sistem bagi hasil 50%-50% yang umum berlaku tersebut pemodal hanya menyediakan sepasang bibit kambing dan pemelihara hanya menyediakan rumput.

Dalam sistem usaha ini peternak biasanya tidak membangun kandang yang memenuhi standar peternakan. Boleh dikatakan, mereka tidak menyediakan kandang untuk ternak kambing mereka. Kambing dibiarkan mencari rumput dan dedaunan sendiri, dan pada sore hari kambing kembali dan tidur di emperan atau pekarangan rumah peternak. Sayangnya, banyak juga kambing yang tidak selalu pulang ke rumah pemeliharanya. Banyak kambing di pedesaan yang dibiarkan mencari makan sendiri dan ketika malam tidur di sembarang tempat.

Kalau ada orang yang ingin membeli kambingnya, peternak tersebut baru sibuk mencari kambingnya yang berkeliaran dan bergerombol dengan kambing-kambing milik peternak lainnya. Mereka biasanya asal tunjuk saja dalam menentukan kepemilikan kambingnya. Karena kambingnya dibiarkan berkeliaran bebas tanpa pengawasan rutin, yang mereka kenali dengan pasti cuma sepasang kambing induk jantan dan betinanya. Jadi, sudah berapa jumlah kambing mereka dan mana saja kambing mereka, mereka tidak tahu pasti. Pedoman yang mereka gunakan, semua kambing yang bergerombol bersama kambing jantan-betina mereka adalah kambing milik mereka.

Perselisihan antar peternak sehubungan dengan penentuan kepemilikan seperti di atas memang tidak pernah terjadi karena memang para peternak tsb menerapkan pola beternak yang sama - membiarkan kambing-kambing mereka berkeliaran bebas mencari makan sendiri.

Berbeda dengan pola bagi hasil di atas, dalam usaha bagi hasil peternakan kambing skala rumah tangga ini, saya menerapkan sistem bagi hasil yang lain. Dalam usaha peternakan kambing ini, sebagai penyedia dana untuk pembelian bibit kambing dan pembuatan kandang kambing beserta perlengkapannya, pemeriksaan kesehatan rutin, vaksinasi, dan obat-obatan, saya mendapat bagian 70%, dan pemelihara, yang hanya bertugas menyediakan rumput dan memelihara kambing, mendapat bagian 30% dari nilai penjualan anak kambing yang dihasilkan nanti.

Selanjutnya, dalam rangka pengembangan usaha dan penyebaran konsep usaha bagi hasil peternakan kambing ini, kami juga membuka peluang bagi investor untuk ikut serta menanamkan modalnya. Investor dapat bagian hasil 40%, saya 30%, pemelihara 30% dari nilai penjualan anak kambing yg dihasilkan nanti. Pembagian persentase ini didasarkan pada besarnya beban yg ditanggung masing2 mitra - investor menanggung biaya untuk pembelian dua ekor induk kambing betina, saya menanggung biaya pembuatan kandang beserta perlengkapannya, penyediaan pakan tambahan (pakan selain rumput), pemeriksaan kesehatan rutin setiap 3-4 bulan, vaksinasi dan obat2an kalau ada kambing yg sakit, pemelihara menanggung kewajiban menyediakan rumput dan memelihara serta mengawasi kambing setiap hari.

Investor menyediakan dana +/-Rp1.000.000 (satu juta rupiah) untuk pembelian dua ekor induk kambing betina. Tanda +/- ini maksudnya dana sebesar itu cuma patokan tertinggi saat ini. Harga induk kambing betina berkisar Rp350.000 sampai Rp450.000. Kalau harga aktual kambingnya nanti cuma Rp350.000, sisa uang Rp300.000 akan dikembalikan kepada investor. Kalau harga aktualnya Rp450.000, sisa uang Rp100.000 dikembalikan kepada investor.

Dua ekor induk betina ini selanjutnya kami pelihara dan dikawinkan dg pejantan tangguh kami.:) Nilai jual anak-anak kambing yang dihasilkan nanti akan dibagi kepada masing-masing mitra sesuai persentase di atas.

Penjualan sepenuhnya ditentukan oleh investor. Dengan kata lain, investorlah yang menentukan kapan akan menjual anak-anak kambing yang dihasilkan nanti. Kami hanya mengurus prosesnya sesuai dengan harga pasar yang berlaku. Sebagai gambaran, harga kambing jantan dewasa saat ini berkisar Rp750.000 sampai Rp1.000.000 per ekor tergantung besar dan waktu penjualannya. Harga Rp750.000 berlaku pada hari-hari biasa; harga Rp1.000.000 berlaku pada waktu menjelang lebaran Haji.

Selain itu, kalau investor ingin mengundurkan diri dan menarik kembali modalnya, kami akan mengurus penjualan dua ekor induk kambing betina tersebut sesuai dengan harga pasaran yang berlaku saat itu dan kemudian mengirimkan seluruh uang hasil penjualannya kepada investor. Dalam hal ini, tidak berlaku pembagian hasil karena induk kambing betina sepenuhnya milik investor. Yang dibagi cuma anak yg dihasilkannya.

Seperti telah disebutkan di atas, dengan usaha peternakan ini kita dapat membantu keluarga miskin dan pada waktu yang sama kita juga mendapatkan penghasilan.

Kamis, 12 November 2009

Segera Kembali

Para pengunjung dan pembaca yang baik, mohon maaf sudah beberapa waktu belakangan ini saya tidak aktif menambah tulisan di blog peternakan ini.

Belakangan ini saya sibuk mengerjakan berbagai kegiatan seperti menyelesaikan order penerjemahan yang masuk, ikut membantu nyonya ngurus anak yang masih kecil, bolak-balik ke peternakan kambing skala rumah tangga saya yang terletak di pinggiran kota, dan terakhir sejak gempa besar di Padang 30 September 2009 yang lalu saya sibuk menjadi penerjemah USAID (United States Agency for International Development) yang datang ke Padang memberikan bantuan kepada para korban gempa.

Salam Peternak

Hipyan

Kamis, 06 Agustus 2009

Berita Duka

Rekan-rekan peternak dan pembaca semua, mujur tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Syamsinar telah melahirkan seekor anak kambing jantan berbulu putih bersih. Sayangnya, anak kambing jantan ini hanya bernapas beberapa detik saja. Sayangnya lagi, tidak lama setelah anaknya mati, Syamsinar juga mati karena sakit.

Sebenarnya, sakitnya cuma berupa serangan kutu kambing yang cukup merusak bulu lehernya. Yang membuatnya semakin lemah dan akhirnya mati ternyata luka yang sudah membusuk dan berulat di ulu hatinya.

Anehnya, luka yang memborok ini tidak tercium baunya, dan kami baru mengetahuinya setelah Syamsinar mati. Menurut perkiraan kami dan peternak yang sudah cukup berpengalaman di bidang peternakan, luka tersebut sudah terjadi sebelum Syamsinar saya beli dan dibawa ke Padang pada bulan April 2009 lalu.

Pengalaman saya ini bisa dijadikan pelajaran berharga bagi kita peternak pemula. Sebaiknya, kambing yang akan kita beli diperiksa dengan teliti dan menyeluruh supaya kambing yang dibeli benar-benar bebas dari cacat, luka tersembunyi, dan kekurangan laten lainnya.

Selasa, 04 Agustus 2009

Kambing Boerawa

Sebagaimana tersirat dari namanya, kambing Boerawa merupakan kambing hasil perkawinan silang antara kambing Boer jantan dan kambing Etawa atau Peranakan Etawa betina. Perpaduan antara karakteristik kambing Boer yang badannya montok, besar, dan panjang namun berkaki pendek, dan karakteristik kambing Etawa atau Peranakan Etawa yang badannya langsing, tinggi, dan panjang, menghasilkan kambing Boerawa yang badannya montok, besar, panjang, dan tinggi.

Bersambung

Jumat, 29 Mei 2009

Perbedaan Kambing dan Domba

Apa perbedaan kambing dan domba? Sebagai orang awam, kita biasanya dengan cepat mengemukakan dua perbedaan utama antara kambing dan domba. Perbedaan utama antara kambing dan domba adalah pada bulu dan tanduknya. Memang, dua perbedaan inilah yang paling mudah dikenali dengan pengamatan langsung. Bulu kambing lurus, sedangkan bulu domba keriting. Tanduk kambing lurus atau agak melengkung ke belakang, sementara tanduk domba melengkung ke belakang dan berpilin.

Namun demikian, dari kajian yang lebih bersifat ilmiah, kambing dan domba tidak hanya berbeda dalam dua aspek saja. Secara fisik, daging kambing dan domba sama saja. Karena itu, orang awam biasanya tidak tahu mana daging kambing dan mana daging domba. Sebenarnya, daging kambing berwarna lebih merah dan aromanya lebih tajam daripada daging domba. Daging kambing lebih enak dan gurih daripada daging domba berkat perbandingan antara protein dan lemak yang tinggi, yaitu 1 banding 8. Bandingkan dengan daging sapi yang hanya 1 banding 3. Lemak daging kambing juga lebih keras dan putih dibandingkan dengan lemak daging domba.

Domba juga lebih suka bergerombol dibandingkan dengan kambing. Domba biasanya merumput pada pagi dan sore hari. Sebaliknya, kambing merumput sepanjang hari. Selanjutnya, siklus birahi domba 16 sampai 17 hari, sedangkan kambing 19 sampai 21 hari. Lama birahi domba 30 jam, sementara kambing 24 sampai 36 jam. Birahi pertama domba terjadi pada umur 8 sampai 10 bulan, sedangkan kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Perkawinan pertama domba terjadi pada umur 18 bulan, sementara kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Kalau masa bunting domba berlangsung selama 141 sampai 159 hari, masa bunting kambing berlangsung selama 147 hari. Yang terakhir, kadar lemak jenuh atau lemak yang merusak kesehatan pada daging kambing lebih rendah daripada kadar lemak jenuh daging domba. Mungkin hal inilah yang membuat harga domba lebih murah daripada harga kambing.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes